Mustaqim.NET – Kali ini pararabu akan membaca teks khutbah Jumat menjaga pandangan yang kami kutip kebanyakan dari kitab Maraqil-‘Ubudiyah, Syekh Nawawi, Banten. Teks khutbah ini, cocok untuk para guru ngaji, dan pengemban pesantren untuk menyemangatkan santri/muridnya belajar dan tidak melanggar.
Kami sertakan pula cuplikan pengajian kami. Untuk mukadimah khutbah pertama, bisa Anda cek dalam postingan kami: pembuka khutbah Jumat latin dan Arab.
Khutbah Jumat Menjaga Pandangan
Ma’asyiral-Muslimin, Rahimakumul-Lah…
Pada kesempatan kali ini, kami hanya akan mengingatkan sabda Nabi Muhammad ﷺ:
اَلنَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ اِبْلِيْسَ لَعَنَهُ اللّهُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللّهِ آتَاهُ اللّهُ تَعَالَى عَزَّ وَجَلَّ اِيْمَانًا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ فِى قَلْبِهِ .
“Pandangan (mata) adalah salah satu anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantinya dengan keimanan yang ia rasakan kemanisannya di dalam hatinya.”
Ma’asyiral-Muslimin, Rahimakumul-Lah…
Mari kita renungkan satu-persatu, kata-perkata hadis tersebut. Nabi Muhammad ﷺ menggambarkan pandangan mata sama dengan anak panah beracun iblis. Namanya beracun, maka pasti menjalar. Meski yang bermaksiat mata saja, tetapi ia akan mengajak anggota badan yang lain untuk juga bermaksiat.
Sama seperti orang yang kakinya tergigit ular, maka yang sakit bukan hanya kakinya saja. Akan tetapi menjalar sekujur tubuh. Coba kaum muslimin renungkan, bagaimana perzinahan terjadi, semuanya berawal dari pandangan.
Begitu pun untuk para murid dan santri. Mereka yang tergiur untuk melanggar, tidak lain karena tidak bisa menjaga pandangan. Karena ia melihat kesempatan, maka ia bisa berniat untuk melanggar.
Ma’asyiral-Muslimin, Rahimakumul-Lah…
Sebagai balasan dari usaha kita, Allah ﷻ akan memberikan keimanan, yang kita rasakan manisnya. Manis buah keimanan, sangat penting untuk kita dapatkan. Coba kita lihat, betapa banyak orang yang merasa sulit dan gusar saat berada dalam ketaatan. Ia gusar lantaran ingin bermaksiat.
Sekali lagi, keinginan ia bermaksiat, tidak lain faktor utamanya karena ia terkena panah iblis: ia tidak bisa menjaga pandangan. Ia gusar karena jomblo, misalkan. Itu lantaran tergiur karena melihat orang-orang berpacaran. Coba saja semisal ia bisa menjaga pendangan; tidak melihat temannya yang pacaran, maka ia akan enjoy dalam kejombloan. Jomblo fi sabilil-Lah.
Ma’asyiral-Muslimin, Rahimakumul-Lah…
Begitu pun para murid, bisa semangat belajar lantaran ia bisa menjaga pandangan. Ia malas, lantaran sering melihat temannya yang juga pemalas. Ia berbaur dengan orang yang pemalas. Maka sebagai mana lazimnya, ia ikut malas.
Ketika ia berbaur dengan pamalas, maka jangan heran kalau mendapatkan gangguan berupa ocehan yang kira-kira berbunyi, “Ngapain kamu belajar, wong, belum tentu juga sukses?!”
Maka jawablah dengan hati yang fasih, “Orang yang belajar saja belum tentu sukses, apalagi yang tidak belajar?!”
Sebaliknya, jika kita bukan orang yang pintar-pintar amat, tetapi bergabung dengan orang yang rajin musyawarah, aktif bahtsul masail, setidaknya jiwa muthalaah kita akan terpanggil.
Dengan demikian terangkailah jelas poin santri hakiki yang memiliki pendirian. Serta memiliki sifat:
وَلاَ يَمِيْلُ يُمْنَةً وَلاَيُسْرَةً فِىْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ
“Tidak tolah-toleh kanan-kiri, dalam keadaan apa pun”
Ma’asyiral-Muslimin, Rahimakumul-Lah…
Rasa manis dari belajar, bisa kita dapatkan pula jika kita memahami apa yang kita pelajari. Dalam nazam al-Kharidah al-Bahhiyah ada potongan nazam yang berbunyi:
فَافْهَمْ مُنِحْتَ لَذَّةَ الْأَفْهَامِ
“Maka pahamilah, maka engkau dianugerahi kelezatan dalam pemahaman.”
Dengan arti, jangan sampai kita berhenti belajar sebelum paham. Karena manis dan lezatnya belajar, akan kita dapatkan ketika paham.
Cukup sekian khutbah Jumat menjaga pandangan ini, semoga Allah ﷻ memberikan kita kekuatan untuk terhindar dari panah iblis)
(kembali ke artikel pembuka khutbah Jumat latin dan Arab untuk melanjutkan khutbah kedua)






