Rasul memang manusia, tetapi tidak seperti manusia biasa. Hoax merupakan rutinitas mayoritas manusia akhir-akhir ini. Akan tetapi, hal itu mustahil terjadi kepada rasul.

Bukti jelas, mengenai kebenaran rasul adalah: pengakuan langsung dari Tuhan. Memang iya, sejarah tidak pernah menulis bahwa sahabat nabi mendengar langsung pembenaran dari Allah. Akan tetapi, mereka melihat sendiri kejadian luar biasa yang masyhur dengan mukjizat[1], muncul mengiringi pengakuan kenabian.

Mengenai mukjizat, hal itu selaras dengan pembenaran dari Tuhan.[2] Bagaimana mungkin Tuhan menuruti permohonan rasul-Nya, untuk menurunkan mukjizat, sebagai bukti kebenaran, jika rasul itu berdusta?[3]

Dengan itu, berarti Tuhan juga mengiyakan kepada seluruh hal yang disampaikan.[4] Termasuk segala hal yang berkaitan dengan hukum agama, kabar-kabar hari kemudian dan cerita nabi terdahulu. Semua itu mustahil hoax! Andai saja hoax, maka Allah pun juga hoax lantaran telah membenarkan.[5] Hal itu mustahil!

Tuhan adalah pencipta semesta. Tentu, Tuhan tahu kepada semua ciptaan-Nya, baik secara global, maupun rinci. Kalam Allah semua berasal dari pengetahuan itu.[6] Sudah pasti, firman Allah mustahil keliru sebagaimana ilmu-Nya.

Maka sangat menggelikan, jika seseorang masih meragukan kebenaran yang datang dari rasul, dengan dasar manusiawi, padahal dengan mendustakan rasul, secara tidak langsung mendustakan Allah yang telah membenarkan.[7] Kamâ taqaddama. 


[1] Mukjizat adalah: perkara yang diluar nalar, yang bersamaan dengan pengakuan menjadi nabi (mengecualikan ‘alamatul-irhashiyyah, karamah, dan pengakuan orang yang mengaku nabi [palsu]), yang tak tertandingi (mengecualikan sihir dan sulap).

Pengakuan menjadi nabi adalah: pengakuan orang yang luar biasa sebagai pembuktian untuk pengakuannya menjadi nabi.

[2] Sama seperti Tuhan berkata: صدق عبدي في كل ما يبلغ عني

[3] Ulama memberikan contoh: jika ada lelaki mengaku sebagai utusan raja, di kerumunan orang yang ada raja di sana (tentu, raja melihat dan mendengar pengakuan lelaki itu). Orang-orang meminta sebuah bukti. Akhirnya, lelaki itu berkata, “Jika saya benar, raja akan berdiri dan duduk kembali sebanyak tiga kali,” dan raja pun mengikutinya. Dengan begitu, raja membenarkannya, selaras dengan perkataan raja: semua yang dikatakan orang ini tentang saya, semuanya benar (صدق هذا الإنسان في كل ما يبلغ عني).

[4] Perihal rasul wajib sifat shiddiq, Allah membenarkan risâlah dan segala hal yang disampaikan.

[5]

[6]

[7]