Apakah Nabi dan Rasul itu bukan Utusan Allah?

- Penulis

Minggu, 14 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mustaqim.NET Dalam tongkrongan kali ini, Liham membuka pertanyaan, “Apa jangan-jangan…. Ini saya bilang jangan-jangan, ya! Apakah nabi dan rasul itu bukan utusan Allah?” Semua peserta tongkrongan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan aneh tersebut. “Mana mungkin, Ham! Wong, kata rasul sendiri memiliki arti utusan. Kok, bisa, rasul tapi bukan utusan?!” Sambung Syafiq.

Begitulah kira-kira percakapan yang ada di benak saya sendiri, ketika “dipaksa” menulis tema aneh tersebut. Iya. saya secara terpaksa menulis apakah nabi dan rasul itu bukan utusan Allah. Selaku anak pesantren, saya merasa aneh banget dengan tema tersebut. Seakan menanyakan sesauatu yang paradoks.

Namun, saat berpikir-ulang, kayaknya memang masih sedikit sekali masyarakat yang bisa membuktikan bahwa para rasul benar-benar merupakan Allah yang mengutus. “Kita, kan, enggak ngelihat Allah, bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah yang mengutus rasul?” Begitu kira-kira pertanyaan yang terlontar sebagian orang.

Untuk menggugurkan kewajiban, saya akan membahas mengenai bukti logis perihal para rasul memang utusan Allah. Kami kumpulkan dari beberapa kitab ilmu kalam yang muktabarah.

Sebelum melanjutkan, kami akan disclaimer terlebih dahulu, bahwa tulisan ini untuk orang yang sudah meyakini keberadaan tuhan. Bagaimana saya bisa mengklaim bahwa nabi utusan tuhan, bila orang tersebut belum meyakini keberadaan tuhan. Kita bahas dulu secara rentet, mulai dari mukjizat.

Bagi yang belum mempercayai keberdaan tuhan, silahkan baca artikel tentang bukti adanya tuhan secara logika

Mengenal Mukjizat

Pertama, kita harus berkenalan dulu dengan yang namanya mukjizat. Dalam istilah ilmu kalam, mukjizat merupakan sebuah peristiwa luar biasa, sebagai bukti pengakuan nabi, tanpa ada yang bisa menandingi. Mudahnya, ada seseorang mengaku nabi. Kemudian saat dimintai bukti, terjadilah peristiwa luar biasa. Peristiwa itulah yang dimaksud dengan mukjizat.

Perbedaan mukjizat dengan sihir ialah: bila mukjizat, tentu tidak akan ada yang bisa menandinginya. Berbeda dengan sihir yang masih bisa tertandingi.

Sebagai perumpamaan, seperti bila seorang raja mengutus seseorang. Kemudian orang itu mendeklarasikan diri sebagai utusan raja. Saat dimintai bukti, orang itu mengatakan di hadapan raja bahwa raja tersebut akan berdiri dari tempat duduknya. Setelah mendengar perkataan tersebut, tanpa basa-basi, raja tersebut berdiri. Nah, berdiri tersebut sebagai pembenaran secara simbolis.

Begitu pula mukjizat. Karena semua hal ini merupakan ciptaan Tuhan dan kehendak-Nya, peristiwa mukjizat juga sebagai bentuk pembenaran terhadap pengakuan nabi. Dari sana, dapat kita simpulkan bahwa para rasul memang benar-benar utusan Allah.

Kita, kan, tidak melihat langsung mukjizat, bagaimana bisa kita tahu bahwa para rasul benar-benar utusan Allah? Untuk menjawab hal itu, kita harus tahu terlebih dahulu bahwa sumber pengetahuan tidak hanya dengan melihat secara langsung saja. Setidaknya ada tiga jalan pengetahuan: akal, panca indra dan informasi yang autentik.

Nah, untuk membuktikan sejarah, kita tentu kita membutuhkan kabar yang autentik. Jika ada, maka sudah cukup membuktikan bahwa peristiwa tersebut memang benar-benar ada, tanpa melihatnya langsung. Layaknya kita membuktikan, apakah konon memang ada Nabi Adam. Kita tentu mengatakan ada, dengan bukti bahwa tersebar informasi perihal keberadaan Nabi Adam, meski pun kita tidak melihatnya langsung. Lagi pula, terkhusus mukjizat Nabi Muhammad, ada yang bisa kita saksikan hingga saat ini, yaitu berupa al-Quran.

Kesimpulan

Dengan pemaparan tersebut, kami tidak setuju atas klaim yang mengatakan bahwa para nabi dan rasul itu bukan utusan Allah. Semoga bermanfaat!

Berita Terkait

Lantunan Maulid “Ya Muhammad” Merupakan Suul Adab?
Dalil Keselamatan Orangtua Nabi ﷺ
Mengapa Allah Menguji, Padahal Sudah Mahatahu?
Malaikat Pencatat Amal
Penciptaan Sperma (Air Mani) bukanlah Awal Wujud Makhluk
AGAMA & SAINS: Kritik Seputar Istilah Ilmiah
Hubungan Syariat, Tarekat, dan Hakikat
Bukti Manusia Lebih Mulia dari pada Malaikat
Berita ini 193 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 02:22 WIB

Ketika Ayah Tidak Merestui, Kapan Hakim Bisa Menikahkan?

Rabu, 21 Januari 2026 - 10:28 WIB

Empat Tujuan Ziarah Kubur

Sabtu, 20 Desember 2025 - 23:41 WIB

Dalil Kesunahan Puasa Rajab ala Aswaja

Kamis, 4 Desember 2025 - 20:19 WIB

Hukum Istri Lebih Memilih Orangtua daripada Suami

Minggu, 30 November 2025 - 15:14 WIB

Prinsip Mu’asyarah bil Ma’ruf Beserta Contohnya

Minggu, 30 November 2025 - 11:19 WIB

Apa Fungsi Utama Masjid pada Zaman Rasulullah ﷺ?

Minggu, 4 Mei 2025 - 08:14 WIB

Lengkap: Ketentuan, Hukum, dan Hikmah Pelaksanaan Akikah

Senin, 8 Juli 2024 - 20:08 WIB

Dalil Rukyat Hilal Tiap Bulan

Berita Terbaru

Fikih

Ketika Ayah Tidak Merestui, Kapan Hakim Bisa Menikahkan?

Kamis, 30 Jul 2026 - 02:22 WIB

Akhlak

Lantunan Maulid “Ya Muhammad” Merupakan Suul Adab?

Sabtu, 18 Jul 2026 - 10:14 WIB

Ilmu Alat

Penjelasan Lafal هيهات (Haihata) dan Artinya

Minggu, 15 Feb 2026 - 02:09 WIB

Fikih

Empat Tujuan Ziarah Kubur

Rabu, 21 Jan 2026 - 10:28 WIB

dalil keselamatan kedua orangtua nabi

Akidah

Dalil Keselamatan Orangtua Nabi ﷺ

Minggu, 4 Jan 2026 - 17:51 WIB