Menu

Mode Gelap
Macam-Macam Talak 1 2 3 Nabi, Rasul, dan Perbedaannya Bukti Allah Jaiz Fi’lu Kulli Mumkinin aw Tarkuhu Bukti Allah Wajib Sama’, Bashar, dan Kalam Bukti Allah Wajib Qudrah, Iradah, Ilmu dan Hayah

Materi · 27 Des 2021 05:16 WIB ·

Kisah Fi’il Mudhari’ Company; Sebuah Visualisasi Nahwu


Kisah Fi’il Mudhari’ Company; Sebuah Visualisasi Nahwu Perbesar

Mustaqim.NET Aku seorang pekerja. Namun, pekerjaanku agak unik, berbeda dengan pekerjaan lainnya. Upah pekerjaanku selalu berubah-ubah, atau istilah kerennya, mu’rab. Kenapa bayarannya berubah-ubah? Jawaban pastinya, karena aku bekerja di perusahaan Fi’il Mudhari’. Tidak seperti perusahaan Fi’il Madhi dan Amar, yang notabene pekerjaan mereka tetap, atau kata orang mabni.

Kalau kamu mau pergi ke perusahaanku, tinggal ikuti arahan dari Google Maps. Namun, jika Anda tidak memiliki paketan, Anda bisa melihat tanda-tandanya saja. Tandanya ialah pintu gerbangnya yang unik.

Pintu gerbang Fi’il Mudhari’ ada empat. Bentuknya berbeda-beda, ada yang berbentuk nun, hamzah, ta’, dan ya’. Orang-orang menyebut pintu kami dengan sebutan gapuro huruf mudhara’ah. Terkadang mereka menyingkat kami dengan na’ti atau anaitu.

Masing-masing huruf ada penjagannya sendiri-sendiri. Gerbang hamzah memiliki security bernama Mutakallim. Sedangkan gerbang berbentuk nun, memiliki pengawas mutakallim ma’al ghair. Namun, yang menyeramkan ialah pintu gerbang berbentuk ya’ yang memiliki penjaga gaib. Yang lebih komplit, ialah gerbang yang berbentuk ta’. Pintu tersebut dijaga oleh dua malhluk: gaib dan hadir.

Itu gerbangnya. Sebelum gerbang, biasanya Anda melihat mobil terparkir di sana dengan plat nomor: sin, saufa, lam, dan lan. Tapi itu tidak mesti. Kadang kalau pemilikinya lagi berpergian, ya, di sana tidak ada mobil.

Bercerita tentang gajian Fi’il Mudhari’ yang berubah-ubah, kami bergantung kepada bos kami. Jika bos kami sedang sendirian, maka gajian kami tinggi. Orang-orang menyebutnya dengan rafa’. Akan tetapi, sayangnya, bayaran tidak selalu tinggi. Jika sang bos lagi bergandengan tangan dengan si Amil Nashab, maka gajian kami pas-pasan. Orang-orang bilang, gajian nashab. Lebih mirisnya lagi, jika sang bos lagi bersama si Amil Jazm, maka pasti bayaran kami kurang. Kata orang, ketika itu bayaran kami jazm. Karena itulah, aku selalu mengharapkan bayaran ketika bos sedang sendirian. Karena ketika itulah bayaranku tinggi (rafa’).

Baca Juga:  Apakah Nabi dan Rasul itu bukan Utusan Allah?

Bayaran tersebut pun bervariasi, tergantung pekerjanya. Setidaknya, pekerjanya terbagi menjadi dua kategori. Pekerja yang sehat (yang diistilahkan dengan shahih akhir), pekerja cacat (yang diistilahkan dengan mu’tal akhir), dan 5 pekerja khusus (tim ini bernama af’alul khamsah. Kelimanya memiliki pangkat yang terhormat, yakni gelar nun).

Jika pak bos lagi sendirian, sebagaimana yang aku ceritakan barusan, bayarannya pasti gede. Kepada pekerja yang sahih bayarannya memakai dhammah secara tunai dan jelas-jelasan. Sedangkan khusus kepada orang yang cacat, bayarannya sama-sama dhammah tetapi via transfer, biar rahasia. Sedangkan bayaran untuk regu af’alul-khamsah ialah dengan menetapkan pangkat nun-nya.

Berbeda jika pak bos lagi dengan si amil nashab. Pak bos memberi bayaran kepada yang sehat dengan dengan fathah secara tunai dan terang-terangan. Sedangkan yang cacat masih ditinjau dulu. Jika cacatnya gara-gara wawu dan ya’, maka jatahnya sama dengan yang sehat. Namun, jika cacatnya gara-gara alif, maka fathah-nya ditrasfer, biar rahasia. Bebeda dengan regu af’alul-khamsah yang malah diganjar dengan pembuangan pankt nun-nya.

Nasib buruk menimpa kami, jika sampai pak bos bergandengan tangan dengan si amil jazam. Pak bos malah mengganjar yang sehat dengan cara menyukunkan. Sedangkan bagi yang cacat, huruf ‘illat-nya dibuang, dan bagi af’alul khamsah pangkat nun-nya dicopot.

*) Cerita ini hanya fiksi belaka. Kisah ini hanya bertujuan visualisasi nahwu. Kami tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. 

Artikel ini telah dibaca 6 kali