Oh, jadi Allah itu wajib wujud. Tapi, yang masih aku bingung, wujudnya mulai kapan sich, Kak?

***

Allah SWT itu Maha Dahulu (qidam). Jika tidak, maka berarti Allah SWT itu hudûts (baru). Sebab, antara keduanya tak ada sifat penengah[1]. Dengan kata lain, jika tidak qidam maka berarti hudûts.Jika Allah SWT itu baru/ciptaan, maka Allah SWT membutuhkan pencipta (lagi-lagi hal ini sudah dibahas di bab wujud). Lalu, penciptanya Allah SWT pun membutuhkan pencipta[2]. Karena jika penciptanya alam (Allah SWT) baru, maka penciptanya Allah SWT pun baru. Begitu seterusnya!

Dan, perihal kemustahilan Allah SWT hudûts, kayaknyagak perlu diulang lagi. Jika masih bingung, bisa Anda muthâla’ah kembali dibab wujud[3]. Jika sudah mantab, maka bisa Anda lanjutkan ke pembahasan selanjutnya.

Semua hal itu berakhir dua kemungkinan:

Pertama,membutuhkan kepada pencipta hingga tak terhitung jumlahnya (masyhur dengan istilah tasalsul)[4]. Hal ini mustahil lantaran tetap berakhir pada kekosongan, alias selesai.

Kemungkinan kedua, berputar hingga kembali kepada pencipta pertama,alias daur[5]. Inipun mustahil lantaran tidak masuk akal. Sebab, setiap proses ciptaan, pasti penciptanya lebih itu lebih awal dari ciptaannya, sedangkan penciptanya lebih awal. Sedangkan daur: gak ada istilah awal-akhir. Dengan kata lain, yang awal bisa jadi akhir, yang akhir bisa jadi awal. Mustahil![6]

Intinya, jika Allah SWT mustahil hudûts, maka Allah SWT wajib qidam[7].

Sekian!


[1]Ummul-Barâhîn, hal. 155

[2]Ummul-Barâhîn, hal. 155

[3] Lihat: Kenapa Allah SWT Wajib Wujud? (hal. 6)

[4]Ummul-Barâhîn, hal. 156

[5]Ummul-Barâhîn, hal. 155

[6]Ummul-Barâhîn, hal. 155 & 156

[7]Ummul-Barâhîn, hal. 157