Mustaqim.NET – Terkadang seseorang penulis pemula bertanya, “Kapan saat yang tepat untuk menulis?”. Namun, seringkali jawaban dari pertanyaan tersebut tidak bijak, bahkan bejat. Sesekali seorang mentor menjawab, “Kapan saja!”
Jawaban tersebut bukan menambah solusi, melainkan menambah bingung. Jika ada orang menanyakan kapan, tentu jawaban yang dia tunggu adalah penentuan waktu. Andai dia tahu jawabannya ialah, “Terserah,” saya jamin dia tidak akan bertanya.
Sama seperti tukang cukur, pasti ia akan bertanya ukuran dan model rambut seperti apa yang klien harapkan. Jawaban yang ditunggu pemangkas rambut tentu adalah detail dari model dan ukuran rambut. Bukan malah jawaban terserah.
Dengan jawaban sok bijak tersebut, muncullah para penulis yang memiliki karya minim data. Karena para penulis telah didoktrin untuk menulis apa-saja, sesuka dia, tanpa melalui pengamatan terlebih dahulu.
Untuk itu, saya di sini akan memberikan beberapa langkah menulis hasil pengamatan yang baik dan benar. Konsepnya, sebagaimana berikut:
Menulis Hasil Pengamatan Dilakukan Sesudah Menyampaikan Informasi dan Fakta
Konsep menulis hasil pengamatan, harus dilakukan sesudah menyampaikan data. Layaknya natijah muncul setelah menyebutkan dua mukadimah. Kalau tidak ada mukadimah, mana mungkin muncul sebuah natijah?!
Begitu pun dalam menulis sebuah hasil pengamatan, Anda terlebih dahulu memenuhi struktur isi teks laporan hasil pengamatan. Struktur yang saya maksud ialah informasi umum, fakta lalu kesimpulan. Jadi, menulis hasil pengamatan dilakukan sesudah menyampaikan informasi dan fakta secara umum.
Lebih bagus lagi, bila kita menyampaikan metode pengamatannya terlebih dahulu. Mengapa? Agar pembaca bisa mencermati gagasan tersebut muncul dari model penelitian yang bagaimana. Hal ini, demi menghindari klaim buta, lantaran kesalahan pengambilan data.
Hasil Pengamatan Berupa Kesimpulan yang Memperkuat Gagasan
Sesekali saya menemukan tulisan yang antara isi dengan kesimpulannya berbeda. Seakan hasil pengamatannya bertentangan dengan data yang disampaikan.
Sebagai contoh, saya pernah membaca tulisan seseorang tentang hukum belajar ilmu kalam. Data yang disampaikan adalah petuah ulama salaf yang mengharamkan ilmu kalam. Namun, anehnya pada kesimpulannya, ia dengan mudah mengatakan bahwa yang haram bukan ilmu kalam Aswaja, melainkan ilmu kalam Muktazilah.
Saya tidak akan mengkritisi kesimpulannya. Karena saya juga suka banget belajar ilmu kalam. Namun, seharusnya kalau hendak menyimpulkan semacam itu, ia selayaknya menyampaikan tanggapan ulama perihal ulama lain yang mengharamkan ilmu kalam. Bukan murni yang mengharamkan, lalu disimpulkan dengan cara menakwil.
Untuk menghindari kasus semacam ini, kita semestinya membikin kesimpulan yang serasi dengan data. Bukan twist ending. Iya, kalau di film-film, twist ending memang dinantikan. Kalau dalam artikel ilmiah, tidak demikian!
Mengakhiri Artikel dengan Memberikan Sebuah Kesan
Bagian akhir artikel, layaknya kata-kata perpisahan antara penulis dengan pembaca. Sepatutnya, kita “berwasiat” dengan sesuatu yang berkesan, bukan yang bukan-bukan. Saya contohkan tulisan saya sendiri, yang memberikan kesan kapada pembaca pada penghujung artikel. Berikut screenshot-nya:

Penutup artikel tersebut, selain memperkuat gagasan, ia memberikan kesan kepada pembaca. Sehingga bisa melekat dalam waktu yang lama. Jika hanya kajian, bisa jadi setelah membaca, langsung tertelan zaman. Namun, jika ditutup dengan hal yang unik, ia akan melekat dan abadi.
Dengan ketiga poin tersebut, dapat kiranya kalian menyampaikan hasil pengamatan dengan baik dan benar. Ingatlah, bahwa bagian akhir artikel merupakan kata-kata perpisahan antara penulis dan pembaca. Jangan sia-siakan!