Di manakah gerangan Allah SWT berada?

***

Tidak di mana-mana. Allah SWT, tidak berarti membutuhkan tempat. Sebab, yang membutuhkan tempat untuk ada hanyalah sifat[1]. Sedangkan Allah SWT bukanlah sifat. Karena, sifat tidak mungkin punya sifat (dalam hal ini, sifat ma’âni dan ma’nawiyyah). Padahal Allah SWT, adalah dzat yang wajib memiliki sifat qudrah, iradah, dan sifat-sifat ma’âni lainnya. Begitupun qâdiran, mûridan, dan sifat-sifat ma’nawiyyahlainnya[2].


Begitupula Allah SWT tidak membutuhkan sosok penentu/pencipta (mukhashshis). Sebab, jika Allah SWT membutuhkan pencipta, maka Allah SWT itu baru[3]. Dan, lagi-lagi sudah Kak Mir sebutkan bukti kemustahilan Allah SWT hadîts.

Kesimpulannya, setelah Kak Mir sodorkan dua dalil di atas, maka jelaslah kiranya bahwa Allah SWT itu ghina muthlaq (tidak butuh apapun)[4]. Dan inilah yang dimaksud dengan Qiyâmu-Hu bi Nafsi-Hi.

Jadi, Qiyâmu-Hu bi Nafsi-Hi adalah suatu ungkapan dari tidak butuhnya Allah SWT kepada mahal (tempat) dan mukhashshish (pencipta/penentu).


[1]Ummul-Barâhîn, hal. 159

[2]Ummul-Barâhîn, hal. 160

[3]Ummul-Barâhîn, hal. 161

[4]Ummul-Barâhîn, hal. 161