Apakah Allah SWT itu sendirian?

***

Yups, tepat sekali!Andai tuhan itu lebih dari satu, maka mana mungkin ada kita berdua, eh maksudku seluruh jagad raya ini sebab lemahnya tuhan. Lantaranqudrahdan irâdah-nya tuhan itu mencakup keseluruhan[1]. Jika tuhan itu dua, otomatis dzat yang memiliki sifatqudrahdan iradah pun ada dua. Maka kekuasaan tuhan pun harus dibagi dua, alias sebagian saja bin tidak keseluruhan perkara mungkin. Sebab, tak ada ceritanya satu ciptaan (atsar) dari dua pencipta (muatsir)[2].

Semisal gini, saat kita menginjakkan ‘kedua’ kaki kita, apakah bekasnya nanti hanya satu? Ya, gak! Pasti ada bekas kaki kanan dan kiri, gak mungkin Cuma satu kaki!

Maka, salah satunya harus ada yang mengalah, alias salah satu pencipta itu berkuasa kepada seluruh alam, yang lainnyalemah (‘ajz)[3].

Jika salah-satu dua dzat yang memili qudrah itu ‘ajz, maka yang satunya pun ‘ajz, lantaran taraf qudrah-nya sama[4].

Hasil akhirnya, kedua pencipta itu tidak mampu menciptakan alam semesta ini. Dan hasil ini jelas salah kaprah, melihat kenyataannya, alam ini ada[5].

Dari penjelasan tadi, dapat di-sempol-kan, eh maksudku disimpulkan bahwa dzat, sifat serta pekerjaan Allah SWT wajib wahdâniyah!

***

Lha, jika sifat qudrah dan iradah mustahil lebih dari satu—atau gampangannya—hanya Allah SWT yang memiliki pekerjaan, maka kita ini—sebagai makhluk—hidup dalam keterpaksaan donk?

***

Memang, kita tidak memiliki sifat untuk menciptakan (dalam hal ini, menciptakan pekerjaan). Sebab, sifat itu tertentu kepada Allah SWT[6]. Akan tetapi, Allah SWT berkehendak membarengkan antara ikhtiyar dan pekerjaannya makhluk[7]. Dan, inilah yang dimaksud hukum adat[8].

Coba lihatlah api. Sebenarnya api itu tidak membakar, tapi ketepatan saja. Ya, buktinya kalo memang api membakar dengan sendirinya, pasti air pun bisa terbakar donk! Tapi, kenyataannya enggak, kan?!

Samahalnya dengan makan. Yang mengenyangkan kita sebenarnya bukan makan, melainkan Allah SWT. Hanya saja, Allah SWT berkehendak pada hukum adat. Ya, adatnya jika kita makan maka kita kenyang[9].

Itulah ideologi Ahlusunnah Waljamaah. Jangan ikuti aliran Jabariyah dan Qadariyah.

***

Emang Qadariyah dan Jabariyyah itu kenapa, Kak?

***

Akidah Qadiriyyah ngawur,[10]sedangkan Jabariyyah sembrono[11] menanggapi pekerjaannya makhluk. Jabariyyah beranggapan bahwa semua pekerjaan yang ada ini sama dan tidak ada sangkut-pautnya dengan pekerjaan makhluk[12].

Sedangkan Qadariyyah beranggapan bahwa kita memiliki qudrat yang dapat menciptakan pekerjaannya sendiri[13].

Keduanya sama-sama keliru!

Untuk itu, Ahlusunnah Waljamaah menengahi mereka. Bukankah antara darah dan tahi terselip susu yang menyegarkan?[14]

Ahlusunnah Waljamaah tidak mengatakan qudrat-nya makhluk dapat menciptakan pekerjaannya. Lantaran satu-satunya dzat Yang Maha Pencipta hanyalah Allah SWT. Akan tetapi, Allah SWT berkehendak pekerjaan makhluk bersamaan dengan ikhtiyarnya. Dan, inilah yang disebut dengan muktâr. Sedangkan jika Allah SWT menciptakan pekerjaan makhluk tanpa adanya ikhtiyar (bergetar, misalnya), maka di sebut majbûr atau juga mudhthar.


[1]Ummul-Barâhîn, hal. 163

[2]Ummul-Barâhîn, hal. 163

[3]Ummul-Barâhîn, hal. 163

[4]Ummul-Barâhîn, hal. 163

[5]Ummul-Barâhîn, hal. 163

[6]Ummul-Barâhîn, hal. 164

[7]Ummul-Barâhîn, hal. 164

[8]Ummul-Barâhîn, hal. 165

[9]Ummul-Barâhîn, hal. 166

[10]Ummul-Barâhîn, hal. 166

[11]Ummul-Barâhîn, hal. 166

[12]Ummul-Barâhîn, hal. 165

[13]Ummul-Barâhîn, hal. 165

[14]Ummul-Barâhîn, hal. 166