Menu

Mode Gelap
Macam-Macam Talak 1 2 3 Nabi, Rasul, dan Perbedaannya Bukti Allah Jaiz Fi’lu Kulli Mumkinin aw Tarkuhu Bukti Allah Wajib Sama’, Bashar, dan Kalam Bukti Allah Wajib Qudrah, Iradah, Ilmu dan Hayah

Akidah · 10 Nov 2020 09:26 WIB ·

Syukur dan Hamdun, Apa Bedanya?


Syukur dan Hamdun, Apa Bedanya? Perbesar

Mustaqim.net – Sebagaimana kitab lainnya, Imam as-Sanusi membuka kitabnya dengan pujian (hamdun) kepada Allah serta selawat salam untuk Rasulullah SAW. Beliau mengatakan:

الَحْمُد للهِ. وًالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ.

“Alhamdulillah. Selawat dan salam untuk Rasulullah”

Sebenarnya, apa, sih, yang dinamakan hamdun?

Imam as-Sanusi dalam Syarah Ummul Barahin membedakan takrif antara hamdun dengan syukur. Keduanya, sama-sama memuji, hanya saja ada karakteristik masing-masing.

Hamdun adalah: pujian menggunakan kalam atas dasar bagusnya sifat mahmud (yang dipuji), baik dia berbuat baik (ihsan), atau sekadar kesempurnaan dirinya.

Beliau mengartikan syukur dengan: pujian menggunakan lisan atau selainnya (bisa dengan hati atau anggota badan yang lain) atas dasar kenikmatan yang diberikan.

Dengan takrif tersebut, kita sudah bisa merasakan perbadaan keduanya. Keumuman serta kekhususan masing-masil sangat kerasa.

Semisal, meninjau alat (mahal) pemujian, syukur tentu lebih umum ketimbang hamdun, mengingat hamdun hanya bisa dengan kata-kata saja (kalam). Oleh karenanya, syukur lebih umum lantaran bisa menggunakan perkataan, perbuatan, bahkan bisikan hati.

Namun, dari sisi dorongan pujian (muta’allaq) justru hamdun lebih umum daripada syukur. Ingat, syukur hanya didorong kenikmatan yang diberikan, alias yang dipuji harus berbuat kebaikan terlebih dahulu (ihsan). Beda dengan hamdun, yang bukan hanya atas dasar ihsan, tetapi bisa saja atas dasar kesempurnaan sifat yang zat dipuji (kamal).

Oh, ya, hampir kelewat. Imam as-Sanusi juga membocorkan alasan mengapa beliau menggunakan kata kalam saat mendefinisikan wajib. Alasan beliau ialah: agar mencakup pujian dari Allah (hamdun qadim), yang tentu dengan firman-Nya, tanpa menggunakan lisan.

Muhammad ibnu Romli

Baca Juga:  Air Mati, Bolehkah Tayamum?
Artikel ini telah dibaca 86 kali

Baca Lainnya

Apakah Malaikat Memiliki Jenis Kelamin?

9 Mei 2022 - 08:47 WIB

Kisah Keramat Wali dalam al-Quran

30 April 2022 - 16:10 WIB

Antara Dusta dan Jujur | Ulasan Surah Saba’

19 Februari 2022 - 04:07 WIB

ANTARA JUJUR DAN DUSTA

Perubahan Wujud Benda Menurut Filsafat Islam

13 Desember 2021 - 05:57 WIB

perubahan wujud benda

Perbedaan Mushaf dan al-Quran

27 November 2021 - 05:04 WIB

perbedaan mushaf dan al-Quran

Umur Tidak Berkurang | Kandungan Surah Fatir

24 November 2021 - 03:07 WIB

isi kandungan surah fatir ayat 32
Trending di Akidah