Menu

Mode Gelap
Macam-Macam Talak 1 2 3 Nabi, Rasul, dan Perbedaannya Bukti Allah Jaiz Fi’lu Kulli Mumkinin aw Tarkuhu Bukti Allah Wajib Sama’, Bashar, dan Kalam Bukti Allah Wajib Qudrah, Iradah, Ilmu dan Hayah

Akidah · 8 Jul 2021 17:53 WIB ·

Abul Anbiya Melahirkan Abrahamic Faith?


Abul Anbiya Melahirkan Abrahamic Faith? Perbesar

Wacana perdamaian di bawah payung abrahamic faith bak sebuah oase ditengah padang pasir. Bisa mungkin sikap trauma sebagian masyarakat dunia terkhusus indonesia akibat  tindakan-tindakan intoleran yang menimpa muslim dunia, seperti pembantaian ribuan muslim palestina, atau kejadian intoleran yang baru-baru ini menimpa muslim Indonesia mendorong sebagian umat islam –tanpa meneliti kebenarannya –memilih dan meyakini Abrahamic Faith sebagai solusi perdamaian pamungkas. 

Abrahamic Faith
pamfelt the moslem jewish christian conference yang diambil dari situs ini

Bermula dari sebuah konferensi ilmuwan muslim-yahudi-kristen atau the moslem jewish christian conference (MJCC) pada tahun 1979 di new york. Para ilmuan islam, kristen, dan yahudi mengupayakan komunikasi antar agama yang meliputi Agama Islam, Yahudi, dan Kristen. Konferensi  tersebut menghasil sebuah rumusan Abrahamic Faith, bahwa: pada dasarnya tiga agama di atas adalah satu karena bersumber pada nenek moyang yang sama, yakni Nabi Ibrahim as. Semenjak itu wacana Abrahamic Faith menjadi sebuah istilah yang sangat populer dan terus dicanangkan oleh kalangan pluralis sebagi golden way pemersatu tiga agama. 

Mereka mengklaim, bahwa Nabi Ibrahim as sebagai abul anbiya yang telah melahirkan tiga agama di atas adalah sebagai bukti kesamaan tiga agama;  perbedaan bentuk konsepsi dan ritual dianggap hanya perbedaan ijtihad masing-masing agama yang tidak perlu dipermasalahkan. Perbedaan itu menurut kaum pluralis seperti perbedaan antar mazhab dalam islam (furuiyah). Mengutip pendapat Kamil Najjar dari kitab at-tasyabbuh wal ikhtilaf. Tentu saja hal ini tidak benar.

Membungkus agama Islam bersama Yahudi, dan Nasrani sebagai sajian perdamaian adalah tindakan salah, terlalu memaksakan dan rapuh secara keilmuan islam. Dalam hal ini ada beberapa alasan:

Baca Juga:  Putih Merupakan Warna Favorit

3 Alasan Abrahamic Faith Bukanlah Solusi

Pertama, eksistensi ajaran yahudi dan nasrani sampai saat ini, lalu disetarakan dengan Agama Islam dapat menimbulkan tanda tanya besar. Pasalnya, ajaran yahudi dan nasrani yang bersifat temporal (dibatasi oleh waktu) tentunya sudah tergeser dan disempurnakan oleh agama Islam sebagai agama semitik terakhir yang bersifat abadi dan universal.

Syekh Nawawi al-Bantani ketika mengomentari surat al-Maidah ayat 48 menyatakan Bahwa: “Taurat (kitab kaum Yahudi) adalah sebuah syariat semenjak diutusnya Nabi Musa as, sampai terutusnya Nabi Isa as, Injil (kitab kaum Nasrani) adalah sebuah syariat sejak diutusnya Nabi Isa as, sampai terutusnya Nabi Muhammad dan al-Quran adalah syariat untuk semua makhluk yang ada pada zaman Nabi Muhammad sampai hari kiamat.” hal ini senada dengan ungkapan ats-Tsa’labi. Menurut ats-Tsa’labi salah satu fungsi  al-Quran adalah sebagai rujukan pokok untuk memilah hal-hal yang benar dan salah akibat tahrif yang terjadi pada kitab-kitab yang menjadi pedoman ajaran terdahulu

Nah, sampai di sini sudah terlihat kerapuhan wacana Abrahamic Faith karena bagaimana mungkin Agama Islam yang berfungsi sebagai agama yang menasakh (menggeser) dan menyempurnakan ajaran sebelumnya kemudian disatukan dengan ajaran al-mansukh.

Kedua, penyandaran ajaran yahudi dan nasrani kepada Nabi Ibrahim sebenarnya hanyalah sebuah klaim. Karena, baik Nabi Ibrahim atau Nabi-nabi lain pendahulu Nabi Muhammad memiliki agama yang sama yakni sebuah agama yang mengesakan allah( at-tauhîd ). Hal itu dapat dilihat secara jelas pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 67 yang artinya: “Ibrahim bukanlah orang yahudi bukan (pula) seorang nasrani, akan tetapi dia adalah orang yang lurus dan muslim. Dan tidaklah dia dari golongan orang-orang musyrik.” Menurut para mufassir kata “Muslim” pada ayat di atas adalah “at-Tauhid” yang menunjukkan bahwa ajaran yang dianut oleh Nabi Ibrahim masih bernama at-tauhid –namun memiliki substansi yang sama dengan Islam. Hanya saja setelah agama penyempurna yang dibawa nabi muhammad datang nama tersebut berubah menjadi agama islam. 

Baca Juga:  Foto Ijazah, kok, Tidak Pakai Kerudung?

Bukti lain terkait hal ini adalah sebuah hadist shahih dari Abi Hurairah yang artinya: “aku (Nabi Muhammad) adalah orang yang paling dekat dengan Nabi Isa Bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi adalah bersaudara, ibu mereka berbeda-beda namun agama mereka adalah satu.”

Ketiga, upaya penyatuan tiga agama di bawah payung Abrahamic Faith adalah upaya yang bertepuk sebelah tangan. Dalam sejarah, baik kaum yahudi atau nasrani dahulu tidak pernah bisa berkompromi dan mau berbagi Nabi Ibrahim sebagai pioner agama mereka. Sebuah data sejarah yang banyak dikutip oleh mufassir menyebutkan bahwa sekelompok nasrani najrân pernah berselisih dengan sekelompok orang yahudi mereka saling mengklaim sebagai pengikut Nabi Ibrahim. Kaum nasrani berkata bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang nasrani demikian pula orang yahudi. Namun ketika perseteruan tersebut diharapkan pada Nabi Muhammad, beliau malah berkata: “tiap dua golongan itu (yahudi dan nasrani) bebas (bari’) dari Ibrahim dan agamanya. Bahkan Nabi Ibrahim adalah seorang yang muslim dan tulus (hanifan-musliman) dan aku (nabi muhammad) pengikut agamanya (Nabi Ibrahim) maka ikutilah agamanya, yakni Agama Islam”

Artikel ini telah dibaca 38 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Apakah Malaikat Memiliki Jenis Kelamin?

9 Mei 2022 - 08:47 WIB

Kisah Keramat Wali dalam al-Quran

30 April 2022 - 16:10 WIB

3 Kriteria Wanita dalam Syarat Nikah Menurut Islam

1 Maret 2022 - 01:09 WIB

syarat nikah menurut islam

Antara Dusta dan Jujur | Ulasan Surah Saba’

19 Februari 2022 - 04:07 WIB

ANTARA JUJUR DAN DUSTA

Kebolehan Melihat Calon Istri dalam al-Quran | Kandungan Surah al-Ahzab ayat 52

19 Februari 2022 - 03:50 WIB

Bolehkah Nikah dengan Sepupu? | Kandungan Surah al-Ahzab Ayat ke-50

19 Februari 2022 - 03:39 WIB

Trending di Fikih